Yahudi, Kristen dan Islam biasa disebut agama-agama Ibrahimi (abrahamic
religions), karena pokok-pokok ajarannya bernenek moyang kepada ajaran nabi
Ibrahim (sekitar abad 18 SM), yaitu agama yang menekankan keselamatan melalui
iman, menekankan keterkaitan atau konsekuensi langsung antara iman dan
perbuatan nyata manusia.
Menurut agama-agama samawi itu, Tuhan tidak dipahami sebagai yang
berfokus pada benda-benda (totemisme), atau upacara-upacara (sakramentalisme)
seperti pada beberapa agama lain, tetapi sebagai yang mengatasi alam dan
sekaligus menuntut manusia untuk menjalani hidupnya mengikuti jalan tertentu
yang ukurannya ialah kebaikan seluruh anggota masyarakat manusia sendiri.
Dengan kata lain, selain bersifat serba transendental dan maha tinggi, Tuhan
juga bersifat etikal, dalam arti bahwa Ia menghendaki manusia untuk bertingkal
laku yang etis dan bermoral.
Karena menekankan amal perbuatan yang baik dan benar itu , para ahli
kajian ilmiah tentang agama-agama menyatakan Islam dan Yahudi yang juga sering
disebut agama semitik (semitic religion) ini, tergolong agama etika (ethical
religion), yakni agama yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia tergantung
pada perbuatan baik dan amal salehnya.
Ini berbeda dari agama Kristen yang juga termasuk agama semitik,
disebabkan teologinya berdasarkan doktrin kejatuhan (fall) manusia (Adam) dari
surga yang menyebabkan kesengsaraan abadi hidupnya, mengajarkan bahwa manusia
perlu penebusan oleh kemurahan (Grace) Tuhan dengan mengorbankan putra
tunggalnya, Isa al-Masih untuk disalib menjadi "Sang Penebus".